menghitung perubahan berat badan istrinya tiap ons tiap hari. Jika saja para tamuku tidak datang sewaktu malam gelap, berani taruhan Pak RT bisa menaksir berapa rata-rata usia tamuku sekaligus meramal-ramal siapa saja di antara mereka yang akan mati dengan wajar dan siapa saja yang bakal tewas dengan tidak wajar, seperti mati di penjara Nusakambangan atau mampus didor regu penembak.
Semalam Pak RT menggelar pertemuan dengan beberapa warga—seluruhnya laki-laki. Sebagai pensiunan tentara berpangkat Sersan Dua, dia membuka pergunjingan layaknya komandan membrifing para prajuritnya. Sambil membuka catatan yang telah dia siapkan, dia mengutarakan pendapatnya mengenai peristiwa-peristiwa aktual yang terjadi di permukaan bumi. Dia memulainya dengan membahas konflik di Libia, lalu reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II dan menyambungnya dengan penggerebekan panti pijat.
Kemudian dia mengoceh tentang data statistik orang asing yang keluar-masuk perumahan ini. Dia berceloteh panjang lebar mengenai Umar, orang yang belum genap sebulan tinggal di perumahan ini tetapi memiliki kebiasaan lain daripada yang lain. Umar adalah aku.Pak Hansip segera angkat bicara. Dia terang-terangan tidak suka punya tetangga seperti aku. Walaupun diakuinya aku tidak pernah usil pada tetangga, dia yakin aku dapat mengganggu stabilitas perumahan.
“Tutur katanya lemah lembut. Bau badannya selalu harum. Orang seperti ini biasanya berbahaya,” tuturnya.
Kendali pembicaraan lantas diambil alih Pak Kyai. Dia katakan bahwa agama tidak mengizinkan penyimpangan-penyimpangan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Lalu dia mengecam handphone dan internet yang menurutnya dapat dengan mudah disalahgunakan orang untuk kegiatan yang melenceng dari tujuan agama. “Terima kasih telah mendengarkan kuliah tujuh menit saya,” dia menutup mulutnya dengan gaya persis ketika dia berceramah usai shalat Shubuh.
Acara tanya jawab dimulai. Mereka yang belum sempat ngomong berebut kesempatan untuk bisa ngomong sekeras-kerasnya. Rupanya mereka kuatir dianggap tolol hanya karena tidak bisa ngomong keras. Yang repot ialah seorang tetangga yang kebetulan batuknya sedang kumat. Empat dari lima menit waktu yang diberikan padanya habis hanya untuk batuk dan membuang dahak.
Walaupun digelar secara mendadak, rapat ini tetap mengesankan. Ya, mereka berhasil menimbulkan kesan bahwa Umar adalah or
No comments:
Post a Comment